Program Pemberian Biskuit Makanan Tambahan bagi Balita Indonesia

Bulan lalu sempat hangat diskusi terkait pemberian makanan tambahan (PMT) bagi balita untuk mengatasi permasalahan kekurangan gizi. Presiden secara eksplisit menyatakan ketidaksetujuannya pada program PMT biskuit bagi balita Indonesia. Pada artikel ini kami akan menjabarkan sistem pemberian biskuit makanan tambahan dari pemerintah bagi balita yang selama beberapa tahun ini berjalan.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia memiliki banyak program untuk mengentaskan permasalahan kekurangan gizi pada balita di Indonesia. Salah satu program gizi kurang balita adalah program pemberian makanan tambahan (MT) dalam bentuk biskuit. Biskuit yang diberikan untuk balita dengan gizi kurang telah diformulasi khusus. Harapannya, pemberian biskuit MT dapat mencegah kekurangan gizi pada balita dengan status gizi baik dan pemulihan gizi pada balita kurus/sangat kurus. Pengadaan MT dilakukan melalui pengadaan pusat dan daerah. Dalam perencanaannya, volume pengadaan MT ditetapkan dari data nasional prevalensi balita kurus usia 6-59 bulan. Pada pelaksanaannya, volume pengadaan MT ditentukan dari data rekapitulasi hasil kegiatan surveilans gizi di puskesmas.

Spesifikasi MT mengacu pada Permenkes 51 Tahun 2016 tentang Suplementasi Gizi. Untuk MT berupa biskuit tersedia dalam kemasan primer yang dibungkus aluminium foil. Satu bungkus kemasan primer berisi berisi 4 (empat) keping biskuit dengan berat 40 gram. Setiap 21 (dua puluh satu) kemasan primer dikemas dalam 1 (satu) kotak kemasan sekunder dengan berat 840 gram. Setiap 4 (empat) kemasan sekunder dikemas dalam 1 (satu) kemasan tersier. Nilai gizi yang terkandung dalam setiap 100 gram (10 keping) biskuit MT untuk balita mengandung 450 kkal, 14 gram lemak, 9 gram protein, dan 71 gram karbohidrat, 10 vitamin (vitamin A, B1, B2, B3, B6, B12, D, E, K, asam folat) dan 7 mineral (besi, zink, fosfor, selenium, dan kalsium).

Sumber gambar: nutric.id

Dalam buku petunjuk teknis juga diberikan rekomendasi pemberian biskuit MT. MT yang ditujukan untuk pencegahan gizi kurang diberikan pada seluruh balita usia 6-59 bulan dengan waktu pemberian maksimal satu bulan disertai dengan edukasi gizi. MT yang ditujukan untuk pemulihan diberikan pada balita kurus usia 6-59 bulan (indeks BB/PB atau BB/TB dengan Z-score <-2 SD, bagi balita sangat kurus dengan Z-score <-3 SD diberikan sesuai anjuran Tim Asuhan Gizi Tatalaksana Anak Gizi Buruk). MT dengan tujuan pemulihan diberikan dengan disertai konseling gizi sampai status gizi balita membaik dengan pemantauan melalui peningkatan berat badan atau Z-score. Dalam buku petunjuk teknis, rekomendasi pemberian biskuit MT bagi balita kurus usia 6-11 bulan adalah 8 keping (2 bungkus) per hari dan usia 12-59 bulan adalah 12 keping (3 bungkus) per hari. Untuk cara mengkonsumsinya, bisa dengan menggunakan sendok ditambahakan air matang seperti pada pembuatan bubur bayi.

Pemantauan pemanfaatan biskuit MT dilaksanakan oleh bidan di desa/petugas yang ditunjuk/kader. Pengamatan yang dilakukan terdiri dari cara penyimpanan (wadah, letak), cara penyajian (besar porsi, daya terima), persediaan MT, keluhan sasaran terhadap MT. Dalam melakukan pemantauan pemberian MT, petugas menggunakan formulir pemantauan pemanfaatan MT. Formulir berisi informasi monitoring, identitas balita penerima MT, serta informasi penerima MT (riwayat penerimaan MT, konsumsi ASI, jumlah konsumsi MT oleh balita, evaluasi BB, status gizi balita, kesukaan balita terhadap MT, keluhan balita saat menerima MT, riwayat penerimaan bantuan lain).

Lalu, bagaimanakah program PMT biskuit selama ini berjalan di lapangan? Apakah pemberian PMT sudah tepat sasaran dan efektif? Pada artikel berikutnya, kami akan memaparkan beberapa riset terkait program pemberian PMT biskuit bagi balita.

Sumber bacaan:

Direktorat Gizi Masyarakat. 2019. Petunjuk teknis makanan tambahan balita dan ibu hamil. Jakarta : Kementerian Kesehatan RI.

https://mediaindonesia.com/humaniora/553215/presiden-sentil-kementerianlembaga-karena-masih-beri-balita-biskuit

Leave a comment

Dampak Covid